SOLO The Spirit of Java

SOLO The Spirit of Java

Dulu, saya sebeeeeellll banget sama yang namanya ‘SOLO’, kesan pertama berkunjung ke Solo adalah ‘Panas, gerah, crowded, dll’. maklumlah… biasa hidup di udara dingin, ~Curup~, toh klaten atawa jogja juga ga’ seHOT Solo. saya juga ga’ tau knapa bisa memilih UNS di pilihan kedua SMPTN saya dan ternyata ~alhamdulillah~ ketrima di green campus ini. hmm… sempet manyun dan DEMO tapi didalam hati, “kok SOLO sih? males banget dehh! sepiiii…. ga seseru dan serame Jogja!” tapi lama-kelamaan kemanyunan itu berubah menjadi senyuman yang mulai ‘melebar’ karena banyak hal yang saya dapatkan di kota ini.
Layaknya potongan lirik lagu pemuja rahasia-S07:

mungkin kau takkan pernah tahu
betapa mudahnya kau untuk dikagumi
mungkin kau takkan pernah sadar
betapa mudahnya kau untuk dicintai

aku lah orang yang akan selalu memujamu
aku lah orang yang akan selalu mengintaimu
aku lah orang yang akan selalu memujamu
aku lah orang yang akan selalu mengintaimu

Yup yup yup! itulah ungkapan perasaan saya untuk Solo! Tidak membutuhkan waktu yang lama, mudah sekali untuk jatuh cinta sama kota budaya ini. Saya mulai penasaran dan ~menyukai~ hal-hal yang berbau tradisional, terutama music etniknya. Sangat sangat suka mendengarkan alunan nada yang tercipta dari alat music gamelan, merasa seperti ada sesuatu dibalik suaranya yang menenangkan.hmm…

Kebetulan juga UNS itu tetanggaan sama ISI alias Institut Seni Indonesia yang notabene sering menyelenggarakan pentas-pentas seni. Dulu waktu ospek jurusan juga Mahasiswa baru juga “dipaksa” untuk mengenal kraton, Karena kegiatannya diselenggarakan dikraton…tapi saya senaaang sekaliiiiii, saya menemukan banyak hal yang tidak bisa saya ungkapkan lewat tulisan… hanya bergemuruh dihati :D

Ketertarikan saya kepada budaya ~karena SOLO~, membuat saya memutuskan untuk mengambil mata kuliah pilihan ‘arsitektur pelestarian’. Dari sini lah ‘mata’ saya mulai terbuka, diawal semester saya pernah mendengarkan diskusi tentang problematika benteng vastenburg yang akan dijadikan hotel boutique. Pada saat itu saya sangat setuju jika benteng itu alih fungsikan sebagai hotel boutique, karena buat apa jika hanya dibiarkan sebagai tempat tumbuh suburnya semak belukar, toh itu kan hanya benda peninggalan masa lampau yang cukup dikenang dalam ingatan dan dalam bentuk tulisan-tulisan.

Setelah saya mengikuti kuliah-kuliah dosen saya yang aktivis lembaga peninggalan purbakala itu, saya mulai mengerti alasan para budayawan dan sejarahwan selalu kekeuh untuk mempertahankan peninggalan sejarah. Yah… nilai sejarah itu memang sangat berarti, banyak hal yang bisa kita pelajari dari sana. Dan…. besar harapan saya kepada kota Solo tercinta ini untuk tetap mempertahankan slogannya, seiring dengan carut marut perkembangan zaman ini semoga Solo_ku tidak kehilangan identitas.

Bercerita tentang Solo mengingatkan saya pada Sekaten, yang saat ini sedang diselenggarakan di alun-alun dan mengingatkan saya pula pada sekaten tahun lalu. Kebetulan untuk yang tahun ini saya belum sempat mampir kesana. da beberapa dokumentasi dari kunjungan saya ke Sekaten tahun lalu yang tertangkap di kamera ‘baby blue’ saya.

Di bawah ini ada beberapa contoh advertisement zaman baheula, yang membuat saya tertawa cekikikan melihatnya karena membandingkan dengan periklanan saat ini… :D

sabun LUX, modelnya kayak marilyn monroe tapi kok bahasa Jawa ya. pake LUX bisa bikin kulit ajeg, lumer.... hoho maksudte opo kuik? :D

sebenarnya masih banyak yang ingin saya ceritakan tentang Solo, tapi tapiiiiiii……….. apa mau dikata,, saya harus melanjutkan tulisan lain…. “Konsep Tugas Akhir” hehe… semoga lain waktu masih ada kesempatan dan keMoodtan untuk mengungkapkan kekaguman saya pada The Spirit of Java ini. :) )

»

  1. Solo aka Surakarta, sebenarnya sih ga lebih panas dari Jogja loh mbak sept :)

    Btw, sempat tersenyum saia lihat iklan2 jadoel yg mbak tampilkan di atas :D

    Sampean tasih betah wonten solo toh?

    • masa sih? dulu saya sering main ke jogja.. kbetulan kakak saya kuliah disana. suasananya adem2 aja tuh… apa krn lokasinya di jakal ya? LOL :D

  2. Dulu saya sempat kecewa dengan kota Solo yg waktu itu eraton tak terawat,dll.Saya mulai respek dengan Solo sejak PKL di Proliman dipindah ke Semanggi,terus mulai dibanguin Citywalk di Slamet Riyadi..dan seterusnya..Saya senang akhirnya Solo banyak membenahi potensi yg dimiliki.Sekarang yg masih kurang menurut saya adalah minimnya perawatan lingkungan keraton Kasunanan(termasuk alun2 utara dan selatan),semrawutnya pasar Klewer,serta kotornya sungai2.Trotoar jg belum merata,lihatlah betapa di Jogja trotoar dibangun di seluruh ruas jalan kota.

    • yupp, bertahaplah… :)
      semoga SOLO menjadi semakin rapi & teratur, spy bisa mendukung jargonnya sbg kota wisata budaya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s